Kuskus dan Wallaby, Mamalia Berkantung Khas Cycloop yang Jarang Terlihat Wisatawan

Kuskus dan Wallaby, Mamalia Berkantung Khas Cycloop yang Jarang Terlihat Wisatawan

JAYAPURA, LELEMUKU.COM - Pegunungan Cycloop menyimpan kekayaan fauna unik yang jarang ditemukan di tempat lain, termasuk mamalia berkantung atau marsupial khas Australia dan Papua. Kuskus dan Wallaby yang bergerak lincah di antara semak-semak dan pepohonan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang beruntung melihatnya.

Fauna di Cycloop adalah perpaduan unik dari spesies Australasia, mencerminkan sejarah geologis Papua yang pernah terhubung dengan benua Australia. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu tempat penting bagi konservasi mamalia Papua yang memiliki karakteristik berbeda dari mamalia di wilayah Indonesia lainnya.

Kuskus dengan gerakan lambatnya seringkali beristirahat di dahan pohon pada siang hari. Hewan nokturnal ini lebih aktif di malam hari ketika mencari makan berupa daun-daun muda, buah, dan nektar bunga. Mata besar dan bulu lebat menjadi ciri khas Kuskus yang membuatnya terlihat menggemaskan.

Terdapat beberapa spesies Kuskus yang hidup di Cycloop dengan warna bulu yang bervariasi, mulai dari putih, abu-abu, hingga cokelat kehitaman. Beberapa spesies bahkan memiliki pola warna yang unik pada bulunya. Kuskus berperan penting dalam ekosistem hutan sebagai penyebar biji dan penyerbuk bunga.

Wallaby yang merupakan kerabat Kanguru berukuran lebih kecil dapat ditemukan di area terbuka di sekitar hutan. Hewan berkantung ini bergerak dengan melompat menggunakan kaki belakangnya yang kuat. Wallaby biasanya aktif di pagi dan sore hari ketika cuaca tidak terlalu panas.

Keberadaan marsupial di Cycloop menunjukkan bahwa kawasan ini masih memiliki hutan primer yang terjaga. Mamalia berkantung sangat sensitif terhadap perubahan habitat dan akan menghilang jika hutan mengalami kerusakan. Dengan demikian, kehadiran Kuskus dan Wallaby menjadi indikator kesehatan ekosistem.

Untuk melihat mamalia-mamalia ini, pengunjung memerlukan kesabaran dan keberuntungan. Kuskus yang nokturnal hanya dapat dilihat dengan melakukan night trekking menggunakan senter. Mata Kuskus akan memantulkan cahaya senter sehingga memudahkan pencarian, namun pengunjung harus tetap berhati-hati dan tidak membuat kebisingan.

Wallaby lebih mudah ditemui pada pagi atau sore hari di area transisi antara hutan dan padang rumput. Mereka biasanya mencari makan di area terbuka namun akan segera melompat masuk ke hutan jika merasa terancam. Pengamatan dari jarak jauh dengan binokuler akan memberikan pengalaman terbaik tanpa mengganggu hewan.

Selain Kuskus dan Wallaby, Cycloop juga menjadi habitat bagi berbagai reptil termasuk ular dan kadal. Berbagai jenis reptil ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan dengan memangsa hewan-hewan kecil seperti tikus dan serangga.

Beberapa spesies ular di Cycloop bersifat berbisa dan perlu diwaspadai. Namun pada umumnya ular akan menghindari manusia dan hanya menyerang jika merasa terancam. Pengunjung disarankan untuk selalu berjalan di jalur yang telah ditentukan dan menggunakan sepatu boots tinggi untuk perlindungan.

Kadal dengan berbagai ukuran dari yang kecil hingga monitor lizard berukuran besar juga menghuni Cycloop. Beberapa spesies kadal pohon memiliki warna yang cerah dan kemampuan berubah warna untuk kamuflase. Mengamati reptil-reptil ini memberikan pemahaman tentang keanekaragaman hayati Papua yang luar biasa.

Ancaman terbesar bagi mamalia dan reptil di Cycloop adalah hilangnya habitat akibat deforestasi dan perburuan liar. Beberapa spesies Kuskus diburu untuk diambil bulunya atau dijual sebagai hewan peliharaan ilegal. Penegakan hukum yang tegas diperlukan untuk melindungi satwa-satwa langka ini.

Pengembangan wisata wildlife watching yang bertanggung jawab dapat menjadi alternatif ekonomi bagi masyarakat lokal. Wisatawan yang tertarik melihat mamalia berkantung di habitat aslinya bersedia membayar untuk pengalaman eksklusif ini. Pendapatan dari ekowisata dapat memberikan insentif bagi masyarakat untuk melindungi hutan dan fauna yang ada di dalamnya. (evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya

    © 2016- Lelemuku.com is owned by PT. Batlax.com.
    Affiliated with Voice of America, VOA Indonesia, Tempo, BenarNews, Teras.id, Reuters, DW and RT

    DMCA.com Protection Status Creative Commons License

    pembaca saat ini: 0